Definisi-definisi Daerah Aliran Sungai (DAS)

DAS = Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disebut DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. (PP No 37 tentang Pengelolaan DAS, Pasal 1)

DAS = dalam bahasa Inggris disebut Watershed atau dalam skala luasan kecil disebut Catchment Area adalah suatu wilayah daratan yang dibatasi oleh punggung bukit atau batas-batas pemisah topografi, yang berfungsi menerima, menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh di atasnya ke alur-alur sungai dan terus mengalir ke anak sungai dan ke sungai utama, akhirnya bermuara ke danau/waduk atau ke laut.(1)

Sub DAS = bagian dari DAS yang menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai uatama. Setiap DAS terbagi habis ke dalam Sub DAS-Sub DAS.(1)

Sub DAS = suatu wilayah kesatuan ekosistem yang terbentuk secara alamiah, air hujan meresap atau mengalir melalui cabang aliran sungai yang membentuk bagian wilayah DAS.(2)

Sub-sub DAS = suatu wilayah kesatuan ekosistem yang terbentuk secara alamiah, dimana air hujan meresap atau mengalir melalui ranting aliran sungai yang membentuk bagian dari Sub DAS.(2)

Daerah Tangkapan Air (DTA) = Daerah Tangkapan Air adalah suatu kawasan yang berfungsi sebagai daerah penadah air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sumber air di wilayah daerah.(3)

Daerah Tangkapan Air (DTA) = kawasan di hulu danau yang memasok air ke danau.(4)

Wilayah sungai = kesatuan wilayah tata pengairan sebagai hasil pengembangan satu atau lebih daerah pengaliran sungai. (Permen No 39/1989 Tentang pembagian wilayah sungai Pasal 1 ayat 1)

Sungai = system pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi pada kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan. (Permen No 39/1989 Tentang pembagian wilayah sungai Pasal 1 ayat 2)

Bagian Hulu DAS = suatu wilayah daratan bagian dari DAS yang dicirikan dengan topografi bergelombang, berbukit dan atau bergunung, kerapatan drainase relatif tinggi, merupakan sumber air yang masuk ke sungai utama dan sumber erosi yang sebagian terangkut menjadi sedimen daerah hilir.(1)

Bagian Hilir DAS = suatu wilayah daratan bagian dari DAS yang dicirikan dengan topografi datar sampai landai, merupakan daerah endapan sedimen atau aluvial.(1)

Pembagian Daerah Aliran Sungai berdasarkan fungsi Hulu, Tengah dan Hilir yaitu:

  1. bagian hulu didasarkan pada fungsi konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah hujan.
  2. bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.
  3. bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.(5)

 

Keterangan :

(1)        http://bpdas-solo.sim-rlps.dephut.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=56&Itemid=68

(2)        http://pla.deptan.go.id/pdf/Konservasi-Lahan.pdf

(3)        http://www.djpp.depkumham.go.id/files/ld/1996/jayapura10-1996.pdf

(4)        http://www.psda.jabarprov.go.id/data/arsip/pp_no.38-2011.pdf

            (PP No 38/2011 tentang Sungai Pasal 23 Ayat 2)

(5)        http://pengertian-definisi.blogspot.com/2011/09/daerah-aliran-sungai-das-bagian-hulu.html

 

SEMOGA BERMAFAAT 🙂

Menapak Tanah Tertinggi Jawa Barat

Provinsi Jawa Barat memiliki puncak-puncak gunung yang beranekaragam keindahan dan ketinggiannya. Saya bersama 9 rekan berniat untuk menapak di salah satu gunung Jawa Barat. Gunung ini memiliki tinggi 3078 mdpl dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat. Ya, Gunung Ciremai. Seperti biasa kami melakukan prosedur pendakian yaitu mencari informasi mengenai gunung tertinggi ini, mulai dari surfing di internet dan bertanya kepada rekan lain yang sudah mendaki.

Gunung Ciremai memiliki 3 jalur pendakian, diantaranya jalur Majalengka, Palutungan, dan Linggarjati. Weekend ini kami memilih untuk mendaki melalui jalur Majalengka, karena ada salah satu rekan yang tinggal di Kabupaten Sumedang dan dekat dengan jalur ini. Sekitar 2 jam dari Kecamatan Ujung Jaya ke Pos Pendakian Jalur Apuy, Majalengka. Perjalanan dimulai sehabis shalat jumat menuju terminal Kadipaten Majalengka dan dilanjutkan ke terminal Maja. Dari terminal ini, perjalanan pun dilanjutkan menaiki sebuah mobil colt terbuka ke rumah Bapak Ubuh sebagai penjaga pos jalur ini. Kami bermalam di rumah beliau dan bertanya mengenai karakteristik gunung tertinggi ini. Untuk mendaki gunung ini, para pendaki dipungut biaya kurang lebih Rp 10.000,00 untuk tiket masuk Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), pemberdayaan desa, dan tentu asuransi. Setiap gunung umumnya memiliki pantangan khusus, seperti halnya di Gunung Ciremai ini memiliki pantangan agar setiap orang tidak mengucapkan “kresek”, yang menurut mitosnya ada Sesepuh yang bernama Mbah Kresek yang menanam pohon di gunung ini, dan beliau membawa bibit pohon dari bawah menggunakan kresek. Menurut infomasi penjaga pos ini, apabila menyebutkan kata itu maka orang yang menyebutkan itu akan bingung atau linglung. Satu lagi pantangan khususnya, tidak boleh menyebutkan nama-nama binatang yang ada di sekitar rumah atau desa karena bila menyebutnya maka orang yang menyebutnya akan tersesat. Percaya tidak percaya, tapi kita harus menghormati peraturan adat setempat.

Matahari mulai meperlihatkan sosoknya dan kami juga mulai melihatkan diri keluar dari rumah Pak Ubuh. Tidak disangka, tinggi menjulang dan kokoh, dibanyangi kabut-kabut tipis. Indah tak terungkapkan. Setelah berdoa kami melanjutkan perjalanan menuju selanjutnya. Dari rumah Pak Ubuh ke Pos 1 melewati ladang-ladang penduduk dengan trek bebatuan dan memakan waktu sekitar 60 menit. Sekitar 5-10 menit sebelum pos 1 ada sebuah air terjun yang jernih airnya dan dapat diminum. Pos 1 (Simpang Lima) berada di ketinggian 1908 mdpl. Pos ini memiliki bangunan kokoh, terbuat dari semen dan seng atapnya. Beristirahat sejenak dan sarapan untuk tenaga mendaki selanjutnya.

Pendakian dilanjutkan menuju Pos 2 dengan memasuki batas hutan yang treknya tanah. Lama waktunya mencapai 60 menit, namun treknya sudah mulai mendaki. Pos 2 dapat dijadikan tempat camp namun kontur jalannya agak miring. Pos 2 ke pos 3 memakan waktu sama, sekitar 60 menit. Namun tidak dapat didirikan tenda karena lahan terbukanya sempit. Pos 4 pun dilalui 60 menit kemudian. Lahannya lebih terbuka, 3-4 tenda dapat didirikan di pos ini. Dan di pos ini pun kami bermalam karena kondisi hujan yang tak kunjung berhenti. Wajar saja karena kami mendaki di bulan Februari yang menurut klimatologi adalah bulan penghujan di Indonesia.

Minggu pagi ditemani suara burung, kami packing untuk melanjutkan ke tanah tertinggi Jawa Barat. Berdoa, kemudian berangkat ke Pos 5 selama 60 menit. Vegetasinya mulai berbeda, pohon-pohon mulai jarang dan digantikan semak belukar. Saat tiba di Pos 5 kami dapat melihat puncak Ciremai. Vegetasi tumbuhan mulai jarang. Hanya tersisa pohon dengan daun-daun kecil dan tumbuhan semak. Terik matahari yang awalnya tak berasa, mulai menyengat kulit. Perjalanan menuju pos 6 (Goa Walet) akan lebih berat, treknya kembali berbatu dan lebih besar dr sebelumnya serta terik matahari yang menyengat. Kami mengunakan jalur aliran air untuk berjalan, meraba batu dan pohon sebagai tambatan agar raga tetap seimbang. Untuk mencapai pos 6 memakan waktu 90 menit dengan catatan istirahat tidak berlebihan.

Akhirnya kami mencapai pos 6 yang dinamakan Goa Walet. Penasaran dengan nama itu akhirnya saya dan beberapa rekan mencari dimana lokasi Goa tersebut. Kami pun menemukannya, tidak jauh dari pos. Sebelum Pos 6 ada jalur ke kanan, bila dilanjutkan akan menemukan goa dibawah dan kita dapat masuk ke sana melalui jalan setapak menurun. Tinggi goa sekitar 7-10 meter dan kedalamannya 15 meter. Dari dinding atas goa menetes air yang tidak berhenti. Saat didalam terasa seperti hujan yang mulai reda. Saatnya kembali melanjutkan perjalanan. Pos Goa Walet menuju Pos 7 atau Puncak Ciremai berjarak 1,5 km dapat ditempuh waktu normal 30-45menit.

Gunung Ciremai memiliki kawah aktif yang dapat dilihat dari puncak. Selain itu, panorama pemandangan alam, rumah-rumah dan pohon-pohon dibawah, langit luas yang biru dicoret dengan putih-putih awan, dan kadang awan abu “mendung” pun menutupi birunya langit.

Saat kita di puncak gunung, kita dapat merasakan arti sebuah perjuangan mencapai sesuatu, sabar dan pantang menyerah. Dan pada hakekatnya, kita harus kembali turun dan mengikhlaskannya. Hingga kita tahu bahwa, mendaki gunung adalah sarana dan prasarana yang telah diciptakan Tuhan Yang Maha Esa untuk kita berlatih di kehidupan sehari-hari.

Terima kasih saya ucapkan kepada Allah Swt, Orang tua, rekan-rekan seperjuangan, dll

yesterday and today

kemarin, hari ini berbeda
sama, mungkin
tapi tak sama, takkan pernah sama
adakah yang membuatnya berbeda?
takdir? permainan hidup?
atau sekedar hati?
tak ada yang tahu, karena tak ada yang mencari tahu
hanya tahu, kita berbeda karena
karena sebuah ketidaksepakatan
ketidaksepakatan, perbedaan pandangan
dan saling sangat menghargai, menghormati
wajar tapi tak wajar
salah paham? entahlah
diputuskan untuk membuat jalur masing-masing
hingga tidak tahu puncak yang sama atau beda yang akan diraih
semoga mimpi yang terbaik

yesterday and today never same
i missed yesterday but i’m alive today
wake up and move on, brader
although we walk at different way
i hope you know
we will reach a same top

dedicated to : you

Konservasi

Konservasi = menjaga apa yang kita miliki agar tetap lestari.
Lestari = tetap seperti keadaan semula, tidak berubah, bertahan, kekal.

prinsip dalam konservasi :
1. Perlindungan
2. Pengawetan
3. Pemanfaatan secara lestari

konservasi itu untuk semua yang kita miliki, dan KEWAJIBAN setiap orang. KENAPA?? karena kita sebagai makhluk yang memimpin di muka bumi. bumi rusak atau lestari itu tergantung manusia di dalamnya. Untuk dampak dari kelestarian dan kerusakan bumi, gw yakin rekan2 sudah dapat berimajinasi dengan logikanya.

Berhubung pendidikan saya tentang kehutanan, jadi konservasi saya tentang kehutanan. Yang perlu diingat adalah bahwa KONSERVASI ADALAH KEWAJIBAN SETIAP INDIVIDU MASYARAKAT DUNIA, hanya saja persentase perlakuannya yang berbeda dari masing-masing individu. Ada yang fokus, ada yang membantu, mensupplai, dll. Tak bisa dipungkiri inilah skema yang tanpa sadar harus ada. (mungkin saja) ada yang belum menyadari akan hal tersebut. Tidak perlu berkecil hati, mari kita lakukan tindakan konservasi dari hal paling kecil yang ada di sekitar kita.

Dalam dunia kehutanan, bila dikaitkan dengan prinsip konservasi pertama, perlindungan. Perlindungan yang dimaksud adalah menjaga baik satwa, maupun tumbuhan, atau ekosistem hutan dari faktor pengganggu guna melestarikan satwa, tumbuhan, dan ekosistem tersebut.
Prinsip kedua, Pengawetan, proses atau cara untuk mempertahankan yang ada di hutan atau di luar hutan, termasuk produk hasil hutan menjadi awet atau tahan lama.
Prinsip terakhir, Pemanfaatan secara lestari, sangat diperlukan mengingat manusia yang memiliki kebutuhan akan produk hasil hutan yang terus meningkat, kita pun harus meningkatkan penanaman dan produksi tentunya agar terjadi keseimbangan dan lestari. Tidak hanya menebang atau berburu dan tidak memikirkan keberlangsungan hidup dari produk hutan, tapi kita harus pikirkan manajemen yang baik. perhitungan yang tepat. “sesungguhnya ilmu itu sangat bermafaat bagi orang banyak”.

*) sedikit berbagi ilmu

Rendi Septiyanto

Lahir Jakarta, 14 September 1991

Dbuu, Ucil, panggilan akrabnya

Brother, itulah satu kata yang paling cocok untuk lo. Di tulisan ini gw mau cerita tentang seorang bocah muda yang penuh dengan mimpi, kepedulian, solidaritas, pengorbanan, tanggung jawab, cinta, visi-misi, kedewasaan, kesabaran dan banyak lagi.

Gw ketemu ma dia saat masuk Organisasi Pecinta Alam SMAN 39 Jakarta Trinawa Bhuwana. Dbuu atau The-Boo. Cowok yang kecil, hitam, gaul, banyak bacot dengan motor supra ceper batik yang antic, sama seperti mukanya yang antic dan perlu dilestarikan.

Tak ingat banyak, mulai dari pendidikan dan latihan pada bulan Agustus hingga November 2006. Orientasi Gabungan di Jambore Agustus 2006, Praktek Lapangan November 2006 dan Pelantikan 2007. Tanggal 4 Januari awal kita Pelantikan, upacara diterangi sinar mentari pagi di Lapangan Basket SMAN 39 Jakarta. Ibu Hartini sebagai Kepala Sekolah saat itu yang melepas kepergian kami Pelantikan. Gw memang belum mengenal dia sepenuhnya 1 banding 1000000000000000000000, gw baru kenal dia.

07 Januari 2007 adalah tanggal yang bersejarah untuk kami dan Pusara 23 Drawa, mulai saat itu kami terikat dalam satu persaudaraan yang memaksa. Cerita dari Pelantikan yang akan kita bawa sampai mati, dari kita ketawa bareng, kesakitan bareng, push-up bareng, makan bareng, ngerokok bareng, ngopi bareng, disiksa bareng, nangis bareng. Itulah pondasi yang kokoh untuk kita menjadi saudara. Cukup unik 4 hari untuk selamanya. Hanya dengan 4 hari, kita bisa menjadi saudara untuk selamanya.

Membuat Acara Peresmian Nama Angkatan Pusara 23 Drawa, yang dimaksudkan ‘rantai air’. Diharapkan dari nama ini kita tidak akan pernah putus seperti rantai yang saling mengikat dan kita bisa bermanfaat untuk orang lain seperti air yang selalu dibutuhkan. Inilah awal kita meresmikan, memplokamirkan bahwa kami saudara.

Menjadi Panitia dan Badan Pengurus Harian menambah erat ikatan kita, sifat baik dan buruk keluar dari setiap individu dan itu wajar. Setelah lulus, kita berpisah dan dari sinilah sebenarnya gw merasa kehilangan dari saudara-saudara gw, salah satunya The-Boo, untungnya masih suka ketemu dia di Baroja, cerita dari yang paling menyedihkan dan menyenangkan kita sharing. Hahha.

Hingga suatu saat kita mengalami kejadian yang serupa, H-2 lebaran kita di baroja memandang jalanan depok yang dibasahi hujan. Segelas kopi sangat membantu untuk menghangatkan hati nan beku. Dbuu lo ada saat gw butuh. Lo mau bantu gw ngonsep segala acara, walaupun tertunda tapi gw sangat bersyukur ada lo di saat gw butuh banget orang.

Entah lo ngerasa hal sama ato ga, tapi kepedulian lo ga bisa gw pungkiri lagi. Kepedulian lo yang bukan Cuma buat gw, tapi buat bangsa ini. Gw tau ini bukan aib lo ga lanjut kuliah, tapi ini adalah prestasi lo, karena lo udah buat banyak prestasi untuk mengisi waktu hidup lo. Gw salut ma lo, dibanding gw yang ga bisa ngapa2in.
Cerita cinta lo yang terbilang unik juga, semoga dijadikan pelajaran ke depannya, bukan hanya ‘mereka’ yang butuh cinta kita, masih banyak yang butuh ‘cinta’ kita. Kalo dibilang sakit, ya sakit, ya ga bu? Hahhaha. Tapi ini hidup.

Gw nulis ini setelah apa yang lo kasih buat gw, dan otak gw langsung merembet dalam sebuah tulisan ini. Salah satu yang bisa gw kasih adalah ini bu. Semoga persaudaraan yang kita linting dari nyari tembakau satu-satu menjadi sebuah cigarette tidak terbakar sia-sia. Karena kita tau semua akan kembali dimana kita tahu hari itu.

Lo salah satu inspirasi gw bu.

I know, you love your way. I proud of that.

Jangan lupa dengan yang mempertemukan kita.

I HEAR. I SEE. I THINK. I WRITE. I POST. WHAT I LIKE.